MANAJEMEN SUMBER DAYA SEKOLAH MELALUI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) TAMAN KANAK – KANAK TK PETRA TUAL (Maluku)

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

  • HANCURNYA GEDUNG SEKOLAH DAN SEMUA FASILITAS SEKOLAH PASKA KONFLIK
  • PENYEDIAAN FASILITAS SEKOLAH YANG CUKUP TERBATAS
  • KURANGNYA PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH
  • MUTU GURU YANG MASIH RENDAH
  • ADMINISTRASI SEKOLAH YANG BELUM TERATUR
  • KETAHANAN SEKOLAH YANG KURANG MANTAP

B. IDENTIFIKASI MASALAH

  • BAGAIMANA MEMBANGUN KEMBALI GEDUNG SEKOLAH PASKA KONFLIK ?
  • BAGAIMANA MENINGKATKAN FASILITAS SEKOLAH YANG CUKUP TERBATAS ?
  • BAGAIMANA MEMBERDAYAKAN KIMITE SEKOLAH ?
  • BAGAIMANA MENINGKATKAN MUTU GURU
  • BAGAIMANA MEMBENAHI KEMBALI ADMINISTRASI SEKOLAH ?
  • BAGAIMANA MEMBANGUN KETAHANAN SEKOLAH YANG MANTAP ?

C. STRATEGI PEMECAHAN MASALAH

  • MELAKUKAN KERJA SAMA DENGAN DINAS PENDIDIKAN , PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN MALUKU TENGGARA SERTA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROPINSI MALUKU
  • MENGAJUKAN PROPOSAL KEPADA PIHAK – PIHAK TERKAIT
  • BEKERJA SAMA DENGAN PIHAK YAYASAN Dr. J.B. SITANALA
  • KERJA SAMA DENGAN KOMITE SEKOLAH

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

A. DAMPAK YANG MUNCUL

  • PENYEDIAAN FASILITAS SEKOLAH, YANG MELIPUTI :
    1. FASLITAS BERMAIN DI LUAR KELAS SEPERTI, AYUNAN, JUNGKITAN, TANGGA MAJEMUK, MELUNCUR, PAPAN TITIAN DAN SIMPAI
    2. FASILITAS DI DALAM KELAS SEPERTI, SUDUT KETUHANAN, SUDUT KELUARGA, SUDUT ALAM SEKITAR, SUDUT PEMBANGUNAN DAN SUDUT KEBUDAYAAN
    3. ALAT PERMAINAN EDUKATIF, SEPERTI, PUCEL, KUDA – KUDAAN, AQUARIUM, GAMBAR BINATANG , BALOK DAN ALAT – ALAT DAPUR
  • PENINGKATAN MUTU GURU MELALUI BERBAGAI PELATIHAN TINGKAT, KABUPATEN, PROPINSI MAUPUN NASIONAL
  • PEMBENAHAN KEMBALI ADMINISTRASI SEKOLAH
  • PENGEMBANGAN SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH, SEPERTI RUANG KELAS DAN RUANG KEPALA SEKOLAH
  • DAMPAK DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

B. KENDALA YANG DIHADAPI

  • BIAYA
  • MEMBANGUN KEMBALI KEPERCAYAAN ORANG TUA UNTUK MENYEKOLAHKAN ANAKNYA DI TK PETRA PASKA KONFLIK

C. FAKTOR PENDUKUNG

  • PEMERINTAH DAERAH
  • PIHAK YAYASAN
  • KOMITE SEKOLAH DAN ORANG TUA SISWA
  • MASYARAKAT SEKITAR

D. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

  • MENGADAKAN PENDEKATAN DENGAN ORANG TUA
  • PEMBENAHAN ADMINISTRASI SEKOLAH
  • MENGGUNAKAN GEDUNG GEREJA SEBAGAI PERSEKOLAHAN SEMENTARA
  • PENDEKATAN DENGAN KOMITE SEKOLAH

PENUTUP

A. KESIMPULAN

  • TUJUAN AKHIR
  • HASIL YANG DICAPAI

B. REKOMENDASI OPERASIONAL

  • SARAN DAN MASUKAN
  • RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH KEDEPAN

Leave a comment »

Meningkatkan Kreatifitas Guru Melalui Penggunaan Media Pembelajaran Kubus Multiguna Di Taman Kanak-kanak – Erni Hailitik (Oepura)

BAB I
PENDAHULUAN

1 Latar Belakang

Usia 4-6 tahun merupakan peletak dasar untuk mengali kecerdasan yg ada pada anak karena pada masa ini anak mudah sekali menerima berbagai upaya untuk pengembangan potensi yg dimiliki.

Upaya pengembangan tsb harus dilakukan melalui kegiatan bermain atau belajar sambil bermain.

Oleh karena itu untuk menunjang KBM maka diperlukan suatu media dalam bentuk alat peraga yg menarik dan multiguna sesuai dgn karakteristik perkembangan anak.

Proses pembelajaran yg menyenangkan apabila didukung oleh media dalam bentuk alat peraga yg menyenangkan pula.

Media dalam bentuk alat peraga kurang diperhatikan oleh guru bahkan dalam KBM dengan tema dan indikator tertentu guru tidak menggunakan media dalam bentuk alat peraga sama sekali.

Hal ini karena kurangnya kreatifitas, keterampilan guru dan kekurangan dana sehingga terjadi verbalisme dalam KBM serta hasil yg dicapai kurang sesuai dgn harapan.

Media dalam bentuk alat peraga memegang peranan penting dalam mendukung berhasil tidaknya proses KBM yg efektif dan efisien.

Guru TK dituntut mengembangkan model-model pembelajaran yg dapat membangkitkan dan memotivasi anak untuk belajar dengan aktif, kreatif dan menantang

Berdasarkan hal tsb di atas, penulis mengangkat judul :

Peningkatan Kreatifitas Guru Melalui Penggunaan Media Pembelajaran Kubus Multiguna Di Taman Kanak-kanak Sion Oepura

Media pembelajaran yg dimaksud dalam tulisan ini adalah alat peraga sebagai media pembelajaran multiguna yg dapat membantu guru dalam KBM karena dapat diterapkan di beberapa area seperti area bahasa, balok, seni dan matematika.

2 Permasalahan

Apakah penggunaan media pembelajaran dalam bentuk alat peraga kubus multiguna dapat meningkatkan kreatifitas anak dalam menyusun angka, mengenal suku kata awal, mengenal warna dan menyusun berbagai bentuk dari kubus?

3 Strategi Pemecahan Masalah

Deskripsi Strategi

Guru sebagai fasilitator harus memfasilitasi peserta didik dengan berbagai keterampilan untuk membangkitkan semangat anak dalam mengikuti proses pembelajaran

Tahapan Operasional Pelaksanaan

Pembuatan Media pembelajaran dalam bentuk alat peraga kubus multiguna sesuai dgn tema-tema yg meliputi : Bahan dan alat yang digunakan, cara membuatnya serta langkah-langkah penggunaannya.

a. Alat dan Bahan

Karton Duplexs atau tripleks, spidol, kertas warna, cuter, pengaris, lem, isolasi bening

b. Cara Pembuatan

  • Karton Duplexs atau tripleks yg dipotong/ digunting sejumlah 6 keping dgn ukuran minimal 6 cm dan maksimal 12 cm
  • Keenam lempangan dilem menjadi kubus kemudian dirapikan
  • kertas warna digambar sesuai dengan tema yg mau diajarkan
  • kertas yang sudah digambar, dilem di kubus yg sudah jadi kemudian dilaminating

BAB II
PEMBAHASAN

1 Alasan Pemilihan Strategi

a. Faktor Guru

Kurangnya kreatifitas guru dalam menyediakan media pembelajaran dalam hal ini alat peraga yg menyenangkan sehingga minat anak ke area balok sangat minim dan didominasi oleh anak laki-laki

b. Faktor Siswa

Dapat menciptakan hubungan yg harmonis antara sesama anak dalam satu kelompok, karena melalui permainan ini anak dilatih untuk bekerjasama dan sabar menunggu giliran dalam kelompok

c. Faktor Ekonomi dan Sosial

Media pembelajaran kubus multiguna tidak membutuhkan banyak biaya karena dapat dibuat dari bahan-bahan sisa yg diperoleh di lingkungan sekitar anak. Oleh karena itu, perlu ditanamkan kepada anak pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.

d. Faktor Pelaksanaan KBM

Tema : Diri sendiri

Sub Tema : Mengenal identitas diri

Kubus multiguna dapat diterapkan di bidang pengembangan pembinaan moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian yaitu :

Fisik Motorik

- Bidang Pengembangan Kemampuan Dasar

Bahasa

Kognitif

Fisik Motorik

Seni

2 Hasil atau Dampak Yang Dicapai

Dalam kegiatan proses belajar mengajar, ada dampak yg sangat siginifikan terhadap perkembangan anak dalam mengikuti pembelajaran.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dgn menggunakan media pembelajaran kubus multiguna di pembelajaran yg berpusat pada anak, anak dalam bersosialisasi dgn teman dan kemampuan yg ingin dicapai pun menunjukan hasil yg memuaskan.

3 Kendala-kendala yg dihadapi dalam melaksanakan strategi yg dipilih

  1. Kreatifitas guru yg kurang sehingga untuk menciptakan media sebagai alat peraga masih kurang.
  2. Guru hanya mengandalkan alat peraga yg permanen sehingga tidak menciptakan alat peraga baru yang menantang dalam kegiatan proses belajar mengajar.
  3. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap Pendidikan Anak Usia Dini khususnya TK.
  4. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya Pendidikan usia dini termasuk dukungan pengadaan sarana dan prasarana pembelajaran
  5. Kurangnya pemahaman orang tua tentang perntingnya alat permainan bagi anak.

4 Faktor-Faktor Pendukung

  1. Mudah memperoleh alat atau bahan di lingkungan sekitar yg dapat dimanfaatkan sebagai media untuk pembuatan alat peraga.
  2. Tidak membutuhkan banyak biaya untuk pembuatan media sebagai alat peraga dan alat permainan.
  3. Dukungan dari guru untuk membuat dan menyelesaikan media sebagai alat peraga kubus multiguna sangat baik.
  4. Dukungan dari Yayasan untuk memfasilitasi kebutuhan TK.

5 Alternatif Pengembangan

  1. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
  2. Memanfaatkan bahan sisa atau bekas sebagai media pembelajaran.
  3. Mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini yg merupakan usia emas (Golden Age).
  4. Kepala Sekolah harus memprogramkan alat peraga yg harus dibuat oleh guru sehingga anak termotivasi untuk belajar dan bermain bersama sesuai dgn indikator-indikator yg telah dipilih dalam silabus dan SKM.

BAB III
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

1 Simpulan

  • Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan di TK bertujuan untuk membantu meletakan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan kreatifitas anak.
  • Peran media pembelajaran sebagai alat peraga dalam satuan kegiatan pun sangat berpengaruh.
  • Media pembelajaran dalam bentuk alat peraga kubus multiguna ini menjadi contoh bagi guru sehingga dengan menggunakan alat peraga kubus multiguna ini, berbagai kegiatan dapat diajarkan oleh guru.
  • Kubus multiguna juga selain menjadi sumber belajar yg efektif, kreatif dan menyenangkan, juga sebagai wahana bagi anak untuk bekerjasama dalam kelompoknya waktu bermain dan belajar bersama.
  • Pembuatan media pembelajaran membutuhkan guru yg kreatif sehingga mampu menciptakan inovasi-inovasi dalam pembelajaran dan perangkatnya sehingga anak tidak jenuh dalam mengikuti proses belajar mengajar.

2 Rekomendasi Operasional

  • Untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama di Taman Kanak-Kanak (TK) maka membutuhkan pendidikan formal bagi guru TK dgn menekankan materi pada didaktik dan metodik sehingga dalam menjalankan tugasnya dapat mengembangkan media pembelajaran sebagai alat peraga.
  • Diperlukan pendidikan non formal yaitu dalam bentuk Diklat, Kursus, Penataran, Diskusi secara intensif yg dilakukan dalam Kelompok Kerja Guru dan Musyawarah Kelompok Kerja Kepala Taman Kanak-Kanak yg membahas tentang Didaktik Metodik dan media pembelajaran sebagai alat peraga yg mendukung proses KBM.
  • Untuk peningkatan profesional guru dan mutu pendidikan, diharapkan pemerintah segera memenuhi standar pembiayaan pendidikan seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang

Leave a comment »

PEMBERDAYAAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI TK KEMALA BHAYANGKARI METRO – Herawati (Metro)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

- Rendahnya mutu lulusan

- Meningkatnya pengangguran

- Pembelajaran yang teroritik dan kurang memanfaatkan lingkungan

Prinsip Pembelajaran Berbasis Lingkungan

  • Tidak perlu mengubah sistem kurikulum yang berlaku
  • Menggunakan potensi wilayah sebagai sumber belajar
  • Menggunakan pendekatan Manajemen berbasis sekolah (MBS) dengan meningkatkan peranserta masyarakat dan dunia usaha.
  • Paradigma “school to work” dapat menjadi dasar semua kegiatan pendidikan di Taman Kanak-kanak.
  • Adanya motto : “Sederhana dalam sarana, tapi kaya tujuan ”.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Bagaimana mencapai tujuan pendidikan TK secara optimal dengan memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada di lingkungan internal dan eksternal sekolah ?

1.3.TUJUAN

  1. Ingin Memperkaya wawasan guru yang dapat mendorong peningkatan krativitas guru dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis lingkungan di TK Kemala Bhayangkari 24 Cabang Metro.
  2. Ingin Memberdayakan lingkungan sekolah agar dapat dijadikan wahana untuk proses pendidikan TK dengan tetap memperhatikan isi silabus.
  3. Ingin Memperdayakan peran orang tua murid, masyarakat dan dunia usaha agar dapat berperan aktif dalam membantu proses pendidikan berbasis lingkungan di TK Kemala Bhayangkari 24 Cabang Metro.

1.4. MANFAAT

  1. Dapat Memperkaya wawasan guru yang dapat mendorong peningkatan krativitas guru dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis lingkungan di TK Kemala Bhayangkari 24 Cabang Metro.
  2. Dapat Memberdayakan lingkungan sekolah agar dapat dijadikan wahana untuk proses pendidikan TK dengan tetap memperhatikan isi silabus.
  3. Dapat Memperdayakan peran orang tua murid, masyarakat dan dunia usaha agar dapat berperan aktif dalam membantu proses pendidikan berbasis lingkungan di TK Kemala Bhayangkari 24 Cabang Metro

2.1. TAHAPAN OPERASIONAL PELAKSANAAN

Peningkatan wawasan pengetahuan kepada guru untuk mendorong peningkatan kreativitas dalam proses pendidikan berbasis lingkungan dilakukan dengan tahapan operasional:

  • Penyediaan sarana dan fasilitas yang memadai Dilakukan kegiatan diskusi antarguru secara terjadwal dan insidentil
  • Penyusunan target sebagai pedoman.
  • reward and punishment system
  • Net working dengan sekolah sekitar
  • Kegiatan IHT
  • Lomba Tingkat Sekolah guru, murid dan walimurid

Pemberdayaan peran orang tua terhadap proses PBL dilakukan dengan tahapan operasional:

  • Pelaksanaan program sosialiasi program
  • Penerapan MBS
  • Pengenalan berbagai profesi pekerjaan orang tua kepada murid dan profesi lainnya kepada anak didik, seperti profesi Dokter dan Polisi yang diundang ke sekolah untuk menjadi Pembina upacara agar dapat memperkenal kepada anak didik tentang keberadaan, tugas, dan fungsi mereka bagi masyarakat.
  • Melibatkan peran orang tua yang mempunyai keahlian (skill)/pekerjaan tertentu untuk membantu kegiatan ekstra kurikuler di sekolah.

Pemberdayaan lingkungan sekolah sebagai wahana proses pendidikan dilakukan dengan tahapan operasional:

  • Pengadaan dan pengelolaan lahan pertanian untuk mendukung proses pendidikan kepada anak didik dengan cara :
  1. Mengenalkan kepada anak didik tentang berbagai jenis tanaman sayuran.
  2. Mengenalkan anak didik kepada berbagai proses penanaman dan pemetikan berbagai jenis sayur-sayuran.
  3. Memberi kesempatan kepada anak didik untuk membawa pulang sayuran yang telah dipetik agar dapat dimasak oleh orang tuanya di rumah
  • Menjalin kerjasama dengan puskesmas
  • Pengenalan nilai mata uang dan praktek jual beli di pasar, khususnya di Supermarket, dengan memberikan uang tabungan anak sebesar Rp 5.000 kepada setiap anak agar dapat dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan, dimana anak yang membayarkan sendiri uangnya dan diajarkan bertindak tertib untuk antri di kasir pembayaran.
  • Kunjungan dan pembelajaran murid ke lembaga-lembaga profesi, seperti kantor pos, telekomunikasi, kantor polisi, Bandar udara, stasion kereta api dan lain sebagainya.
  • Kunjungan ke kebun petani sayur di sekitar sekolah.

BAB II

PEMBAHASAN

2.2. Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah

  1. Sesuai dengan arah pendidikan Nasional
  • Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, diperlukan adanya sarana
  • Ada beberapa kendala/hambatan yang dihadapi oleh TK Bhayangkari Metro dalam melaksanakan proses pendidikan, baik kendala yang berasal dari internal sekolah maupun eksternal sekolah
  • Penerapan KTSP yang memberi keleluasaan sekolah untuk mendapat mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi

2.3. Hasil Capaian atas Strategi yang Digunakan

  • Meningkatkan motivasi guru dalam mengembangkan PBL
  • Meningkatnya kreatifitas guru
  • Guru, Kepala Sekolah dan masyarakat cenderung lebih meningkat tanggung jawab dan kerjasamanya dalam mengelola pengajaran di sekolah.
  • Kurikulum pengajaran bisa lebih komprehensif dan mendapat masukan dan dukungan dari orang tua/wali murid.
  • Metode Pegajaran lebih variatif
  • Agar anak menemukan figur dan mengenali bakat dan potensinya
  • Anak dapat memahami kearifan lokal dan potensi ekonomi

2.4. Kendala dalam Melaksanakan Strategi yang digunakan

  • Masih adanya persepsi yang kurang tepat dari masyarakat yang menganggap bahwa TK Kemala Bhayangkari 24 Cabang Metro adalah sekolah untuk anak anggota polri saja
  • Pemilihan dan penempatan guru pada TK Kemala Bhayangkari 24 Cabang metro bukan dilakukan atas dasar prestasi atau untuk meningkatkan kinerja sekolah tapi lebih disebabkan karena alas an dari pada kekurangan guru atau tidak ada guru.
  • Bantuan pendidikan dari pemerintah melalui Bantuan Operasional Sekolah masih belum mencukupi untuk membiayai kegiatan pembelajaran di sekolah.
  • Sekolah tidak mempunyai tenaga Tata Usaha (TU) yang dapat menangani

2.5. Faktor-faktor Pendukung

  • Adanya semangat, kerjasama dan kebersamaan seluruh guru dan kepala sekolah dalam meningkatakan kinerja dan kualitas pengajar.
  • Adanya kesungguhan dari orang tua/wali murid untuk berpartisipasi aktif dalam memberikan masukan bagi program pengajaran, kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan pendidikan lainnya.
  • Adanya keluguan dan kesenangan dari masyarakat di lingkungan sekolah untuk membantu proses pengajaran di sekolah.
  • Di lingkungan sekolah terdapat lahan yang luas yang memungkinkan sekolah untuk mengelola tanaman sayuran dan praktek penanaman dan pemetikan sayur bagi anak didik.
  • Adanya dukungan dan bantuan dari organisasi profesi, dokter dan polisi, dalam memberikan pengertian tentang profesi pekerjaan kepada anak didik.
  • Adanya dukungan dari organisasi pasar, khususnya supermarket, untuk memfasilitasi pelaksanaan praktek jual beli bagi anak didik.

2.6. Alternatif Pemecahan Masalah

  • Melakukan koordinasi dan kerjasama yang baik dengan Dinas Pendidikan dan sekolah-sekolah lainnya, serta tokoh-tokoh masyarakat dalam rangka meningkatkan kurikulum pendidikan dan penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
  • Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui keikutsertaan dalam kegiatan belajar mengajar.
  • Menciptakan pola kerjasama pengembangan muatan kurikulum pendidikan berbasis lingkungan dengan berbagai lembaga profesi yang dapat menunjang pelaksanaan pendidikan, seperti bank-bank, polres, rumah sakit/puskesmas, dan kantor pemda. Dengan pola kerjasama tersebut, maka secara periodic sekolah dapat mengajak para anak didik untuk melakukan pengenalan profesi untuk meningkatkan pengetahuan mereka.
  • Mengadakan lomba menulis cerita tentang cita-cita yang diidamkan anak didik dimasa mendatang dan atau lomba menggambar tentang figure profesi yang diidamkan oleh anak didik.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

  1. Keterbatasan sarana dan pendanaan tidak selamanya menjadi faktor penghambat pelaksanaan PBL di TK Kemala Bhayangkari Metro
  2. Dengan program yang jelas PBL dapat memaksimalkan kinerja guru
  3. Murid lebih memahami dan merasa senang dengan konsep PBL
  4. Konsep PBL di TK Kemala Bhayangkari Metro sangat didukung oleh walimurid, masyarakat sekitar dan dinas terkait

3.2. SARAN

  • Pemberdayaan Lingkungan di TK Kemala Bhayangkari 24 Cabang Metro sangatlah perlu
  • Kerjasama antar sekolah, wali murid, masyarakat sekitar, organisasi profesi dan dinas terkait perlu di tingkatkan dalam mendukung dalam pelaksanaan program berwawasan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Dr.E.Mulyasa,M.Pd. (2006). Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Jakarata :P T Remaja Rosda Karya
  • Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar tahun (2006) pedoman Pendidikan beorientasi kecakapan Hidup Taman Kanak-Kanak.
  • Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Leave a comment »

LAPORAN PTS – Agung Wihadi S.Pd (Jambi)

LATAR BELAKANG

  1. PP NO.19 Thn 2005 : Pasal 19 ayat 1.
  2. Kondisi siswa yang mengecewakan setelah proses pembelajaran.
  3. Kondisi guru kurang menguasai pembelajaran yang berkualitas
  4. Pembelajaran harus di desain agar mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efesien.
  5. Upaya kongkrit pengembangan PAKEM melalui diskusi kelompok.

RUMUSAN PERMASALAHAN

Apakah dengan menggunakan diskusi kelompok dalam mengembagkan PAKEM dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru di Gugus Dahlia Kecamatan Bajubang ?

TUJUAN PENELITIAN

  1. Memberikan pemahaman guru terhadap konsep PAKEM
  2. Memberikan motivasi terhadap guru agar dapat mengembangkan kreativitasnya.
  3. Meningkatkan hasil belajar siswa melalui pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan

MANFAAT PENELITIAN
1. Merupakan masukan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran
2. Siswa dapat termotivasi dalam belajar dan berkembang kreativitasnya
3. Bahan referensi guna perbaikan mutu pembelajaran di sekolah.

KAJIAN TEORI

  1. Konep PAKEM oleh beberapa ahli seperti: John Dewey, Gagne dan Berliner.
  2. Diskusi kelompok vPengembangan profesi melalui KKG vPendekatan psikologi pembelajaran orang dewasa (ANDRAGOGI)

METODOLOGI PENELITIAN

  1. Setting Penelitian Penelitian dilaksanakan di Gugus Dahlia Kecamatan Bajubang dengan peserta sebanyak 15 orang terdiri dari guru kelas IV s.d VI Dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 2008 s.d 30 April 2008

Prosedur Penelitian Penelitian terdiri dari 3 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan kegiatan yaitu :

    • Persiapan penelitan
    • Pelaksanaan tindakan
    • Pelaksanaan observasi Analisis dan refleksi

HASIL PENELITIAN

SIKLUS I

  • Pemberian tindakan dibagi menjadi 5 kelompok/persekolah
  • Membimbing dan memantau tugas kelompok
  • Mengadakan diskusi panel.

SIKLUS II

  • Kegiatan dibagi menjadi 3 kelompok/kelas
  • Meningkatkan bimbingan terhadap kelompok
  • Mengadakan presentasi kelompok
  • Perbaikan RPP

SIKLUS III

  • Kegiatan dibagi menjadi 3 kelompok (kelas)
  • Meningkatkan bimbingan terhadap kelompok
  • Mengadakan peer teaching tiap kelompok
  • Perbaikan RPP dan strategi pembelajaran

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian diskusi kelompok dapat mengembangkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan serta dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru.

PENUTUP

A.Kesimpulan

Diskusi kelompok dapat membantu guru untuk menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran Pembelajaran model PAKEM dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru

B.Saran

  • Hendaknya saran guru dapat mengadakan diskusi kelompok dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran
  • Hendaknya para guru mengembangkan PAKEM dalam rangka tugas profesional dan peningkatan mutu pembelajaran
  • Hendaknya para guru melaksanakan persiapan yang maksimal sebelum tampil di kelas
  • Agar sekolah mengalokasikan anggaran dana untuk kegiatan PAKEM


Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.